<p style="text-align: justify;"> <span style="font-size: 14px;"><span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;">Rabu (05/09/28) Team Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Pusat (Jakarta) Bersama Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung. menggali sejarah mengenai makna dari filosofi Tradisi Mekotek di Desa Adat Munggu.</span></span></p> <p style="text-align: justify;"> <span style="font-size: 14px;"><span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;">Sejarah tradisi mekotek merupakan warisan tak benda yang sudah di sertifikatkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 20016,  tradisi mekotek (Ngerebeg) bermula dari pada masa kejayaan kerajaan Mengwi, pada masa pemerintahan Tjokorda Nyoman sakti munggu yang memerintah pada tahun 1700, yang mana pada saat itu kerajaan Mengwi ingin mempertahankan kekuasaan di Jawa timur yang di serang musuh, raja Mengwi mengutus pasukan bala tentaranya yang berasal dari desa munggu untuk berangkat ke Jawa timur. Sebelum beliau berangkat, pasukan yang langsung di pimpin Tjokorda Nyoman sakti munggu raja  Mengwi yang ke 3 beliau bersemedi di pura dalem kahyangan Wisesa  desa Adat Munggu yang bertepatan dengan hari raya Kuningan, atau tumpek Kuningan. Sehingga tradisi mekotek (ngerebeg) yang ada di desa adat Munggu selalu di peringati  setiap hari raya Kuningan yang jatuhnya setiap 6 bulan sekali.</span></span></p> <p style="text-align: justify;"> <span style="font-size: 14px;"><span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;">Tradisi mekotek (ngerebeg) ini mempunyai makna : 1. Selaku penolak bala (mengusir roh – roh jahat yang ingin mengganggu masyarakat desa adat Munggu), ini terbukti pada jaman kolonial penjajahan brlanda, tradisi memekotek (Ngerebeg) pernah dilarang karena dikira akan melakukan perlawanan terhadap penjajah, apa yang terjadi desa Munggu terkena wabah penyakit (Gerubug) yang tdak bisa di sembuhkan bahkan sampai meninggal, dengan negosiasi para tokoh Adat dan Agama pada saat itu kepada Bangsa Penjajah maka, di Perbolehkan tradisi itu dilakukan kembali tapi tombak di ganti dengan memakai sebatang kayu (kayu pulet) yang panjangnya 3,5 meter dan tradisi itu masih di laksanakan sampai sekarang. Dimana tradisi itu dilakukan mengelilingi wilayah desa adat munggu, yang di setiap pertigaan atau perempatan jalan itu di laksanakan tradisi tersebut dengan mengumpulkan kayu yang di bawa para pemuda dan masyarakat tersebut menyerupai kerucut atau gunung dan di Suara kayu itu sehingga terdengar suara tak Tek tak tek karena di sana di percaya tempat berkumpulnya roh – roh jahat, di samping itu tradisi mekotek (Ngerebeg) juga memiliki makna penghormatan bagi jasa para pahlawan yang telah berjuang mempertahankan wilayah kekuasaan kerajaan Mengwi. 2. Tradisi ini juga sebagai alat untuk mempersatukan para kaum pemuda yang terdiri dari 12 Banjar adat, disinilah para pemuda bisa melaksanakan kegiatan yang positif, dan menjauhkan sifat negatif seperti Narkoba dan Kebut – kebutan, secara tidak langsung kegiatan mekotek ini menjadi alat pemersatu para pemuda yang ada di desa adat Munggu.</span></span></p> <p style="text-align: justify;"> <span style="font-size: 14px;"><span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"> Saat di temui (10/08) I Made Rai Sujana selaku Bendesa Adat Munggu, mengatakan tim Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Pusat (Jakarta) yang di dampingi tim dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, Kedatangan Tim mencari data untuk di jadikan arsip di Kementrian. Supaya Tradisi-tradisi yang kita punya tidak di klaim oleh Daerah lain, di samping itu juga mengklarifikasi bahwa tradisi itu benar adanya dan masih dilakukan sampel sekarang. 003/KIM MGU</span></span></p>
Bendesa Adat Munggu, Menerima Kunjungan Tim Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Bersama Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung
15 Sep 2018